KITAB
SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja
Katolik | |
|
89. St. Gregorius II (715-731)
Gregorius lahir di Roma pada tahun 669. Ia tepilih menjadi paus pada 19 Mei 715. Ia seorang paus terkenal di abad kedelapan yang mendukung sekaligus melawan kuasa Negara, serta gigih mempertahankan hak-hak paus. Sebelum menjadi paus, ia bertugas sebagai bendaharawan Takhta Suci dan kemudian ditempatkan sebagai kepala perpustakaan Kepausan. Ia adalah pustakawan pertama dari Takhta Suci. Ia melawan Kaisar Leo III, orang Isauria yang ingin menghapuskan pemakaian gambar-gambar. Paus ini mentahbiskan St. Bonifasius Winfrid, seorangpertama dari Saxon Inggris, seorang biarawan, dan mengutusnya (719) dan melakukan karya misi di Jerman, mempertobatkan suku-suku bangsa Jerman yang masih kafir. Bonifasius memperoleh sukses besar dalam misinya itu.
Pada tahun 722, Paus Gregorius mentahbiskan Bonifasius menjadi uskup untuk memimpin umat Jerman yang ditobatkannya. Kepadanya, Gregorius memberikan sepucuk surat rekomendasi untuk diserahkan kepada Charles Martel, seorang raja berkebangsaan Perancis yang beragama Kristen dan menjadi penguasa atas suku-suku Jerman. Atas permohonan paus, Charles Martel melindungi Bonifasius dalam karyanya mempertobatkan suku-suku Jerman itu.
Meskipun banyak keberhasilan dalam kepemimpinannya sebagai paus, Gregorius pun tidak luput dari banyak tantangan. Kekuatan kaum Lombardia bangkit lagi dan menguasai Hongaria, Austria hingga Italia Utara. Persahabatan baik antara Gregorius dengan Liutprand, raja Lombardia tergoncang bahkan putus ketika Litprand memulai propagandanya untuk menguasai Italia. Nafsu menguasai kota Cumae, bagian wilayah kekuasaan Adipati Napoli. Paus gregorius tidak berdaya untuk mengusir mereka keluar dari sana. Akhirnya Yohanes dari Napoli bangkit melawan Liutprand dan berhasil menghalau kaum Lombardia dari Cumae.
Sekali lagi pada tahun 725, orang-orang lombardia berusaha menguasai Italia kerena melihat gejala menurunnya kewibawaan penguasa-penguasa di bagian barat kekaisaran Romawi. Mereka mengincar tanah-tanah kekaisaran di Italia Utara meliputi Ravenna sebagi ibukota propinsi-propinsi di bagian barat kekaisaran. Mereka berhasil menguasai kota Ravenna. Tetapi kemudian dengan pertolongan orang-orang Venesia, paus bersama kaisar berhasil mengusir orang-orang Lombardia itu dari kota Ravenna.
Bersamaan dengan peristiwa penyerangan kaum Lombardia itu, paus Gregorius dihadapkan pada masalah ikonoklasme, yaitu serangan terhadap gereja dari Kekaisaran Kontantinopel dalam hal penghormatan gambar-gambar orang kudus di dalam gereja. Perlawanan ini telah mulai sejak awal abad kedelapan oleh hasutan seorang kafilah dari Damaskus. Kafilah ini mengeluarkan suatu peraturan yang melarang penghormatan gambar-gambar kudus di dalam gereja. Larangan dan pengrusakan gambar-gambar kudus did lama gereja didukung dengan dekrit yang dikeluarkan oleh Kaisar Byzantium, Leo III. Paus Gregorius dengan sangat gigih menentang dekrit tersebut. Kaisar Leo III mulai menyusun suatu rencana pembunuhan atas diri Paus gregorius. Tetapi rencana itu gagal karena sebagian besar orang Italia mendukung Paus dan melancarkan perlawanan terhadap kekaisaran Konstantinopel.
Dalam mempertahankan kepemimpinannya dan iman yang benar, Paus Gregorius senantiasa berhasil membebaskan Gereja dan iman dari semua rongrongan. Satu hal yang patut dicatat ialah bahwa Paus Gregorius tetap menunjukan pengakuannya pada kekaisaran Konstantinopel, karena ia menganggap bahwa kekaisaran itu adalah sah. Ia melawan kaum Lombardia yang berusaha melemahkan kekaisaran, tetapi juga melawan kekaisaran bila kekaisaran melawan dan melanggar hak-hak Gereja. Gregorius telah berhasil meletakkan dasar-dasar pijakan yang kokoh bagi gereja. Setelah masa kepausannya, kuasa dunia Barat menjadi semakin kuat, sementara kuasa Imperial di Timur melorot dengan deras. Gereja merasa sungguh kehilangan Gregorius ketika ia menutup mata pada 11 Februari 731.
|